Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta
Ia adalah seorang penulis yang tulisannya menenggelamkanku dalam ingatan masalalu tentang cinta. Jika Kita tak Pernah Jatuh Cinta, merupakan sebuah karya yang telah tercipta dari tangan ajaibnya. Yah, aku menyebutnya ajaib. Bagiku seorang penulis awam, yang baru memulai untuk menulis. Bahkan menulis hanya sebagai media penyembuh luka hati, tulisan Alvi ini sangat menghibur.
Beberapa kutipan dalam setiap bab buku ini, menjelma menjadi kalimat mutiara yang bisa kita jadikan status di media sosial. Atau bahkan sekedar untuk memberikan kode halus untuk doi, gebetan, teman atau crush kita haha. Lucunya, manisnya, imutnya masa-masa percintaan. Izinkan aku untuk menulis beberapa kalimat yang terkandung didalam buku bersampul hitam pekat dengan judul tulisan berwarna merah ini.
Jika Kita tak Pernah Jatuh Cinta
Jangan-jangan dia tak pernah punya rasa, Kau yang terlalu merasa.
Salah satu bab yang ada pada halaman 189. Mengungkapkan, bahwa jangan-jangan selama ini aku dan kamu hanya terlalu merasa. Berarti sungguh tidak ada apapun diantara kita? Apakah benar adanya seperti itu?
Jangan-jangan dia tak pernah punya rasa, kau yang terlalu merasa.
Namun di matamu, segala kebaikan yang dia berikan kepadamu adalah lampu hijau. Padahal dia biasa saja. Dia hanya sedang berlaku baik, sebagaimana dia memperlakukan orang lain. Kau selalu salah mengartikan perhatiannya, karena kau terlalu merasa.
Dia tak pernah punya rasa, kau yang terlalu merasa.
Lalu perlahan, dia menjauh darimu. Kau menyalahkannya, menuduhnya sebagi penghancur hatimu.
Pada akhir paragraf chapter ini, Alvi menuliskan:
Benar, bahwa tak ada yang salah untuk terus menumbuhkan angan. Tetapi jangan memilih kebahagiaan semu yang pada akhirnya mengecewakanmu.
Komentar
Posting Komentar