Kenapa Ya?
Hai!
sekarang, tanggal cantik dibulan yang menarik dan aku yang sendiri. 😉 awalnya aku pengen memutuskan untuk out alias pulang ke rumah. tapi, ada yang lebih menggugah perasaan. ah, daripada di rumah palingjuga cuman tiduran atau hal yang tidak manfaat lainnya. semedi dalam lab komputer, ditemani hp yang sengaja aku stel musik dan mencoba tenggelam bersama alunan nadanya.
Banyak hal yang terpikirkan oleh otak ini.
1. Resign dari Perdana. Bagaikan jam pasir, sedikit demi sedikit berkurang namun pasti akan habis tidak bersisa. Jujur, awal aku datang semua terasa menyesakkan, dan ingin segera mengakhiri, pergi, bahkan tanpa pamit. Namun, singkatnya banyak hal yang telah terjadi. Keinginan itu, tiba-tiba tersendat. Rasanya ingin pergi ketika semua baik-baik saja. Apakah sekarang sedang tidak baik-baik saja?
Ya begitulah, tidak baik-baik saja.
Yayasan yang baru, terkesan lebih garang dari yang lama. Kepsekku juga tersingkir karenanya. Fitnah kejam, yang akhirnya mendepakknya jauh dari jangkauan kami. Semua mengalami resufhle, kabinet baru terbentuk. Teman-temanku yang muda dan baru ikut andil didalamnya. Sekilas memang menyenangkan untuk menyongsong harapan, semangat, dan tanggung jawab baru. Yah, menyenangkan bila semua baik-baik saja.
Kalau boleh jujur, dan jujur sekali kepada diriku di masa depan. Pdn sedang tidak baik-baik saja. Seperti kapal yang kehilangan kemudinya. Kami disini hanya kacung. Pembantu kapten bajak laut yang bengis. Ia menodongkan pedang ke leher siapapun yang berusaha mendekat. Bahkan istrinya pun tidak berkutik. Kami hanya diam. Aku berposisi sebagai pengamat saat ini. Teman-temanku, sedang berjuang dengan cara mereka masing-masing. Termasuk menghibur diri sendiri dengan segala upaya, susah payahnya kami menyenangkan hati. Meski kami tau, sewaktu-waktu kita bisa saja terlempar dari kapal ini. Karena diluar sana, ombak menjulang tinggi, siap meluluh lantahkan kami. Membelah kapal, hingga akhirnya karam.
Hubungan ini terlalu dekat, dan ini membahayakan.
Pdn, dan sejarah panjang yang melekat padanya. Wah, ini benar-benar menarik! Pikirku. Bahkan tragedi pemilik yayasan meninggal, teman bawa kabur uang, teman menjerusmukan pada hutang. Dan lain sebagainya. Sekarang, posisi aku enggak tau mau cerita ke siapa. Anisa? Ah, aku jadi kasihan. Bukannya apaaa gitu ya, cuma posisinya dia kan belum kerja. dan saat aku mau nyeritain tentang tempat kerjaku. Rasanya enggak balance aja gitu. Berasa, hmmm....
enggak enak. berasa enggak bersyukur aja gitu lhoh. diluar sana banyak orang yang pengen dapet konflik ditempat kerja, bisa cerita ke sesama rekan, dan mengeluh soal kerjaan. Alias, bersyukurlah Riz, ada loh, yang menganggur dan pengen bisa kerja kayak kamu.
Keuangan di Pdn sulit untuk keluar, banyak hal yang perlu dibenahi dan proyek besar butuh uang banyak sekali telah menanti. Kalau keuangan, dan hal lain juga dibatasi. Bagaimana ruang gerak kami? ini lucu, dan pemikiran yang kolot. Bekerja di Pdn, hanya sebatas bekerja tanpa berkarya akan sangat membosankan. Tiada lagi yang akan bergairah untuk berprestasi maju. Semua hanya akan menunggu hingga tersingkir dari kapal, atau ikut tenggelam bersamanya. Seperti SMP pdn yang lebih dahulu tutup. Alasan tepatnya tidak kita ketahui. Meski namanya sama, tetapi tidak lagi bernaung dalam yayasan yang sama.
Udah lama banget aku enggak bikin cerita. POV side, Kpop Mellow, atau apapun itu.
Aku kepikiran buat, hmmm... lebih baik aku segera OUT dari Pdn atau nanti aja ya(?)
Apapun itu, pasti inginnya yang terbaik, terbijak, dan menyenangkan. Aku bodoh! Apakah ini bisa dibilang suatu kesalahan fatal? Bagaimana dengan tempat yang baru? Apakah disana aku diterima dengan baik? Bagaimana kedepannya, apa aku masih sendiri dan menyandang status Jomblowati (?) Padahal, aku cuma pengen temen ngobrol, tidak muluk-muluk sih harapannya. Itu saja, masih belum terealisasi. Ah, apa aku terlalu pesimis menghadapi ini semua?
Aku mulai takut.
Komentar
Posting Komentar